Wisata Sejarah Sembari Makan Coklat

Biasanya saya kurang suka dengan jalan-jalan bersejarah, namun kali ini pada lebaran kemarin ketika diajak pergi mengunjungi makam R.A. Kartini di Rembang, saya turut serta ikut karena sempat memiliki cerita lucu semasa kecil saat pertama kali kesana.

Makam R.A Kartini berada di Desa Bulu. Tepatnya di Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Saya bersama keluarga yang sedang berlibur di Wirosari, Grobogan, awalnya tidak berniat untuk pergi ke Desa Bulu. Tetapi, karena tiap kali kami menginap di Wirosari para saudara selalu bercerita tentang masa kecil saya yang tidak bisa mengeja nama Kartini dengan benar, akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk berkunjung kesana.

Berangkat pada pukul 11:49 WIB, cuaca di tanggal 27 Juni 2017 itu sangatlah panas. Bayangkan saja, baru pukul 11:00 WIB pagi tetapi saya sudah dipertemukan dengan cuaca panas yang mencapai 31°C. Perjalanan dari Wirosari menuju Desa Bulu memakan waktu hampir 2 jam. Kami melewati daerah Ngariangan, Ngawen, dan akhirnya sampai di Desa Bulu sekitar pukul 13:50 WIB.

Ketika sampai, saya tidak mengira kalau udaranya akan sejuk, atau mungkin itu karena sepanjang perjalanan masuk dari pintu gerbang wilayah pemakaman Kartini sampai ke halaman parkiran kendaraan dipenuhi oleh pepohonan rindang. Parkirannya pun luas sekali, di sebelah kiri parkiran terdapat satu bangunan panjang berisi kurang lebih 6-8 kamar mandi. Selain itu juga ada satu bangunan terbuka yang memiliki fasilitas WiFi gratis yang disediakan apabila pengunjung ingin memakses perpustakaan online.

Selanjutnya, di sebelah kanan parkiran terdapat beberapa kios pedagang yang memiliki beragam barang yang dijual dari mainan anak, hiasan gantung dan dream catcher, sampai ke peralatan masak seperti wajan, panci, dan cobek. Sedangkan di penghujung parkiran yang terletak diantara bangunan terbuka dan jajaran pedagang adalah pintu masuk ke gedung besar nan luas tempat dimana keluarga inti Kartini dimakamkan.

Untuk masuk ke gedung tersebut, kami harus menaiki tangga yang mana di sebelah kanannya terdapat patung Kartini yang sangat tinggi. Selain itu, ketika sudah menaiki tangga dan berada tepat di depan gedung tersebut, para pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki. Tepat di depan gedung itu terdapat sebuah pohon yang sangat besar yang memberikan gambaran sejuk yang akan membuat wisatawan ingin bermalas-malasan di teras gedung yang memiliki lantai sejuk.

Jpeg
Kartin’s Statue near the main gate that leads to the family cemetery.

Ketika mulai memasuki pintu masuk bangunan, di sebelah kanan dan kiri pintu masuk terdapat plat bertuliskan peresmian gedung oleh Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno yang berada di sebelah kanan dan peringatan 100 tahun hari lahir Kartini oleh Tien Soeharto yang berada di sebelah kiri. Ketika sudah masuk ke dalam gedung, di sebelah kanan dan kiri, sampai ke belakang, dipenuhi oleh makam dari saudara-saudara dekat Kartini. Dan tepat di tengah gedung terletak makam dari ayah dan ibu Kartini beserta makam Kartini.

Ketiga makam ini dipisahkan dari makam lain dengan pagar besi berwarna emas. Dalam ‘area’ tiga makam keluarga Kartini juga dipenuhi oleh berbagai macam hiasan dari karangan bunga, lukisan, hingga foto keluarga Kartini. Makam ini sebenarnya ditutup oleh pintu pagar, namun ketika saya sekeluarga mengunjungi tempat tersebut, kebetulan pintu pagar sedang dibuka.

Para tamu diperbolehkan masuk ke dalam area makam dan berfoto dan mengambil foto ketiga makam tersebut apabila mereka dalam posisi duduk karena ketika masuk ke area tersebut, pengunjung tidak diperkenankan untuk berfoto dan mengambil foto sambil berdiri. Lalu, di depan area ketiga makam ini juga terdapat foto yang menunjukkan silsilah keluarga besar Kartini yang dipaku di tiang kayu di sebelah kanan pintu pagar, tepat berada di depan makam Kartini. Saya dan keluarga berada disana hanya sampai pukul 14:18 WIB sebelum kami melanjutkan perjalanan ke alun-alun Blora.

Pada tanggal  28 Juni 2017, kami berangkat dari Wirosari menuju Blitar pukul 10:23 WIB dengan sentuhan cuaca 28°C ke wajah kami yang sangat menanti perjalanan hari ini. Kenapa? Karena kami belum pernah mengunjungi Blitar, maka dari itu kami sangat menantikan hari ini.

Karena masa liburan masih panjang, malam hari setelah kami pulang lagi ke Wirosari dari Desa Bulu, ayah saya meminta kami untuk segera menyiapkan pakaian karena esok kami akan berangkat ke Blitar untuk mengunjungi rumah dan makam Soekarno. Awalnya ayah saya menyuruh kami sekeluarga membawa baju ganti setidaknya satu pasang untuk berjaga-jaga apabila kami nanti ingin menginap di suatu hotel. Namun ternyata kami memang benar menginap karena kami terjebak kemacetan parah di Madiun.

Kami menyusuri Kradenan, Sragen, dan Ngawi dengan suguhan pemandangan sawah yang menakjubkan. Baru kali itu saya melihat sawah diramaikan oleh petani yang sedang panen, banyak dari mereka yang mengankut padi ke suatu alat berat yang hasil akhirnya akan mereka tidurkan di atas tanah yang dilapisi oleh karung putih. Selain itu, kami juga baru kali ini benar-benar dapat melihat langit yang sangat cerah dengan gumpalan-gumpalan awan yang besar, terlihat seperti awan-awan yang hanya ada di film dunia fantasi saja.

Begitu juga dengan langitnya yang benar-benar sebiru air laut. Kalau mengingat pemandangan di hari itu, rasanya saya ingin menciptakan alat yang memberi saya kekuatan super untuk bisa berenang diantara awan. Bayangkan saja, kalau saya benar memiliki kekuatan itu, saya bisa melambaikan tangan kepada penumpang pesawat yang sedang melihat dari kaca jendela pesawat.

Kurang lebih sekitar pukul 13:00 WIB, kami berhenti di suatu rumah makan di daerah Ngawi. Kami berhenti untuk beristirahat sekitar setengah jam karena mesin mobil yang kami kendarai benar-benar sangat panas, dibantu dengan terik matahari. Setelah istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Madiun. Namun, tidak ada yang dapat menyangka kalau kami akan menghadapi kemacetan parah.

Jam menunjukkan pukul 15:15 WIB. Cuaca sudah tidak begitu panas, walaupun di dalam mobil masih terasa panas karena mobil yang saya tumpangi diisi sampai 9 orang. Itu karena kami mengajak saudara-saudara di Wirosari juga, dan kami memakai 2 mobil. Kalau hanya kami sekeluarga, kami hanya memakai 1 mobil yang berisi 6 orang. Disaat itu juga saya memiliki perasaan kalau kami tidak akan sampai ke Blitar. Dan ternyata benar, kami terjebak macet dari Madiun sampai Nganjuk, sampai akhirnya kami harus menginap di rumah salah satu saudara yang tinggal di Kediri, itu juga kami baru sampai Kediri sekitar pukul 23:30 WIB.

Keesokan harinya pada 29 Juni 2017, kami memulai perjalanan ke Blitar pada pukul 9:18 WIB. Tujuan kami pertama adalah Istana Gebang alias rumah Bung Karno yang berada di pertengahan perumahan. Untuk masuk kesini, kami melewati Jalan Ahmad Yani dan Jalan Dr. Soetomo.

Istana Gebang memiliki dua bangunan yang terpisah. Satu merupakan gedung pertemuan dan berbentuk seperti aula, dan gedung satu lagi merupakan gedung inti alias rumah Bung Karno. Tepat di depan pintu masuk rumah Bung Karno, dapat dilihat patung besar berwarna putih dalam wujud Bung Karno sendiri.

Selain itu, kawasan ini juga memiliki halaman yang sangat luas yang terdapat pohon besar ditengahnya yang dikelilingi bangku sebagai tempat bersantai untuk menikmati udara Blitar. Di depan pohon juga terdapat sekumpulan orang yang menyewakan becak kecil sebagai transportasi untuk keliling dari Istana Gebang menuju makam Bung Karno. Tidak jauh dari patung Bung Karno juga terdapat sebuah gong bertulisan “Gong Perdamaian Dunia” yang dipenuhi oleh gambar kecil dari bendera-bendera negara dunia.

Sebelum memasuki rumah Bung Karno, pengunjung diharapkan untuk melepas alas kaki. Ketika memasuki rumah, udaranya sangat dingin. Dan pengunjung juga disambut oleh berbagai macam foto dan lukisan Bung Karno. Salah satunya adalah lukisan besar yang menggambarkan Bung Karno dengan gagahnya yang berada di tengah ruang tamu. Di rumah ini juga masih terdapat banyak sekali barang-barang antik yang mungkin pernah dipakai oleh Bung Karno dan keluarganya. Kamar Bung Karno pun masih terlihat asli tanpa adanya pergantian perabotan. Selain itu juga terdapat ruang tidur khusus untuk tamu perempuan dan tamu laki-laki yang dahulu akan menginap disini.

Ketika keluar dari rumah Bung Karno dan berbelok kearah kanan, kami dapat melihat ada satu bangunan memanjang, sepertinya kantin, yang dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang menyuguhkan aneka makanan dan minuman. Selain itu, di seberang kantin ini terdapat barisan pedagang penjual oleh-oleh berbentuk baju dengan berbagai macam model gambar yang tertera di baju-baju itu.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke makam Bung Karno melewati Jalan Ir. Soekarno dan melalui taman bermain dekat alun-alun Blitar. Kami memarkirkan mobil di halaman rumah orang yang disewakan sebagai lahan parkir. Sepanjang jalan yang kami tempuh untuk mencapai makam Bung karno dari parkiran, kami melihat banyak sekali pedagang pernak-pernik dengan wajah Bung Karno dimana-mana. Mulai dari baju, hingga barang-barang hiasan seperti gelas, hiasan kaca, dan juga piring-piring hiasan.

Untuk mencapai makam Bung Karno, kami harus melewati jalan yang membelah dua gedung besar yang merupakan perpustakaan dan museum. Tepat ditengah-tengah jalan itu, terletak patung Bung Karno yang besar. Apabila menengok ke sebelah kanan, kami dapat melihat peta Indonesia yang sangat besar yang menunjukkan jejak hidup Bung Karno.

Selain itu, jalanan yang kami telusuri dibelah lagi oleh satu blok air mancur yang sangat panjang yang menghiasi pahatan tentang kehidupan Bung Karno di tembok sebelah kanan. Di seberang pahatan, terdapat sederet pedagang menjajalkan jualannya yang berupa pakaian. Setelah itu, kami harus menaiki tangga dan berbelok ke kanan memasuki bangunan kecil untuk mengisi daftar buku tamu. Ternyata, penjagaan disin sangat ketat. Apabila belum mengisi buku tamu, maka pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke area pemakaman Bung Karno.

Di area makam Bung Karno terdapat tiga bangunan. Bangunan di sebelah kanan dan kiri saya merupakan bangunan bermodel alun-alun untuk tempat beristirahat. Sedangkan bangunan yang berada di tengah merupakan bangunan utama yang menjadi tempat makam Bung Karno.

Makam Bung Karno diapit oleh makam ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, di sebelah kiri dan makam ibunya, Ida Ayu Njoman Rai, di sebelah kanannya. Makam kedua orang tuanya menjulang tinggi dan tertutup. Sementara makam Bung Karno dipenuhi dengan bunga dan di dekat batu nisan yang memiliki gambar kecil bendera Indonesia terdapat bongkahan batu besar bertuliskan nama Bung Karno.

Ketika kami memasuki area pemakaman, banyak sekali wisatawan yang duduk mengelilingi makam Bung Karno. Ada yang sekedar menaburkan bunga, ada juga yang duduk sembari berdoa. Bahkan ketika kami memutuskan untuk pulang, datang segerombolan wisatawan yang duduk mengelilingi makam Bung Karno dan membacakan Surat Yasin.

30 Juni 2017, kami memutuskan untuk kembali ke Wirosari. Tapi sebelum itu, kami mengunjungi Kampung Coklat Blitar yang berada di daerah Kademangan. Untuk masuk ke dalam “kebun coklat”, anda perlu merogoh kocek sebesar Rp 5.000/orang. Ketika saya memasuki area kebun coklat, saya dapat mencium aroma coklat yang membuat gigi saya bergetar. Kebun ini tidak seperti kebun biasa karena kebun coklat sudah ditata sedemikian rupa sehingga antara pohon coklat satu dengan yang lain dipisahkan oleh jalan setapak yang dapat dilalui oleh para pengunjung.

Di bawah setiap pohon coklat juga diletakkan meja dan kursi untuk wisatawan yang ingin bersantai-santai dan berselfie ria dan juga dapat menjadi tempat wisatawan menyantap makanan. Selain itu, di dalam area kebun coklat yang tertutup dan beratap ini juga terdapat satu bangunan yang menyediakan prasmanan bagi mereka yang ingin menyantap makanan berat.

Pengunjung bisa memilih untuk duduk dibawah pohon coklat atau masuk ke bangunan terbuka yang mana disitu terdapat penyanyi yang sedang menghibur para wisatawan di atas panggung. Kami memilih untuk duduk dibawah pohon coklat, walaupun berkali-kali kami harus berhati-hati agar makanan tidak dimasuki oleh dedaunan yang jatuh.

Apabila pengunjung ingin merasakan makanan ringan, mereka bisa membeli coklat di “Galeri Coklat” yang berada di dekat barisan pohon coklat yang dihiasi oleh kolam kecil berisi ikan koi, atau juga bisa membeli minuman coklat yang berada dekat “pabrik coklat”.

Selain wisata pemandangan dan wisata kuliner, saya menemani beberapa saudara-saudara saya yang masih kecil untuk menghias coklat. Ya, wisatawan disini dapat menghias satu batang coklat hanya dengan mengeluarkan Rp 5.000/coklat. Untuk masuk ke dalam gedung penghiasan coklat, kami harus melewati wisata air yang diperuntukan khusus anak-anak yang ingin menaiki kapal-kapal kecil berbentuk mobil yang mengapung di atas kolam ikan koi.

Sesampainya di gedung penghiasan coklat, saya sebenarnya sedikit malu karena saya merupakan satu-satunya young adult yang ikut serta dalam kegiatan menghias coklat. Dan saya harus berkompetisi dengan anak-anak berumur jenjang PAUD-SD. Namun, karena memang senang menghias apapun, maka saya tetap ikut menghias coklat.

Ketika saya sudah membayar Rp 5.000 untuk menghias coklat, saya kemudian diinstruksikan untuk mengarah ke dapur kecil dan saya diberi coklat kecil berbentuk hati yang diletakkan di atas piring beserta 4 krim penghias coklat berwarna putih, oranye, merah muda, dan hijau. Untuk ukuran anak berumur 20 tahun, dapat dibilang saya lebih memiliki keterampilan dibandingkan para anak kecil ini. Buktinya saya dapat menggambar rumah di atas coklat kecil berbentuk hati ini.

Setelah menghias, saya menaruh coklat tersebut di dalam kulkas kecil di dekat meja pembayaran dan harus menunggu sekitar 10-20 menit agar krim penghiasnya beku. Ketika coklatnya sudah boleh diambil, saya buru-buru mencicipi coklat tersebut karena penasaran apakah rasanya akan sama dengan coklat yang biasa saya beli di minimarket atau beda. Dan ternyata coklat yang saya makan memang beda. Coklat ini memiliki rasa susu yang kental, dan teksturnya pun sangat halus.

Saya sampai sekarang masih tidak bisa mengira kalau saya menghabiskan waktu liburan dengan melakukan wisata bersejarah sembari makan coklat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s